Sunday 17th December 2017,
Forum CSR Bali

Kemarau Panjang, Desa Seraya Krisis Air Bersih

CSR Bali September 24, 2014 Butuh CSR No Comments
Kemarau Panjang, Desa Seraya Krisis Air Bersih

AMLAPURA–Warga Dusun Kayu Wit, Desa Seraya Tengah, Kabupaten Karangasem, Bali timur mangalami kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

“Masyarakat setempat terpaksa mencari air ke sumber mata air dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer,” kata anggota DPRD Karangasem I Made Juwita, Kamis (21/8/2014).

I Made Juwita yang juga warga Dusun Kayu Wit, Desa Seraya Tengah menuturkan, warga setempat harus berjalan kaki cukup jauh untuk mendapatkan air kebutuhan sehari-hari.

“Masalah air bersih sebenarnya menjadi masalah rutin tahunan bagi masyarakat setempat, hingga kini persoalan itu terus berulang setiap tahun, seakan tidak ada solusi bagi warga setempat,” ujar I Made Juwita.

Selain kesulitan air bersih, warga setempat juga menghadapi kesulitan mendapatkan akses pendidikan, kesehatan dan fasilitas jalan yang sangat minim.

Akibat keterbatasan itu ratusan warga yang bermukim di daerah perbukitan menjadi terisolasi. “Yang ada hanya jalan tenah, yang bisa dilewati pejalan kaki dan sepeda motor,” tutur I Made Juwita.

Bahkan untuk sepeda motor juga cukup kesulitan, karena saat hujan sepeda motor saja sulit lewat di jalan tanah tersebut.

Warga setempat juga kesulitan mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan, karena Puskesmas dan sekolah hanya ada di bawah bukit di Kedesaan.

Jika ada warga yang sakit untuk berobat ke Puskesmas harus berjalan sekitar empat kilometer dengan menuruni bukit, bahkan ibu hamil yang akan melahirkan juga harus kuat berjalan kaki sebelum anaknya lahir menuju Puskesmas.

Hal ini diakui sangat beresiko pada ibu hamil. Sementara anak anak Dusun Kayu Wit juga harus bekerja keras menempuh pendidikanya. Mereka harus berjalan kaki untuk ke sekolah dengan jarak berkilo-kilometer.

I Made Juwita menjelaskan, bantuan beras untuk masyarakat miskin (Raskin) selama ini masih diterima warga, namun belum bisa mencukupi warga. Terlebih lagi saat musim kemarau, karena panen banyak yang gagal sehingga muncul pacelik.

Selama ini hasil pertanian berupa Jagung, namun pada musim kemarau kali ini tanaman jagung mengalami gagal penen. Begitu juga ubi.

“Kondisi itu diperparah dengan sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga perlu mendapat perhatian pemerintah,” ujarnya.

Source : Antara, Gambar : Google

Like this Article? Share it!

Leave A Response